Timeline

December 2014
M T W T F S S
« Feb    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Search Engine

WP_Cloudy

Peserta Lomba

  • Yogya akhir-akhir ini hujan turun setiap hari.  Menepati kodrat bulan Desember yang dalam konsep mikir gotak gatuk matuk orang Jawa, nama Desember itu diartikan sebagai gede-gedene sumber. Hanya saja sore itu lain, senja berwarna keemasan membuat langit Yogya terlalu galau untuk dilewatkan begitu saja. Motor lanang kesayangan segera disiapkan dan siap meluncur. Sudah akan meluncur tiba-tiba Lik Tukino muncul dari dalam rumah.
    ” Arep ningdi den bagus Jatmiko?” 
    ” Nglaras surya ning kampus Gadjah Mada, Lik…” 
    ” Wah, hayoh ngiras pantes iku, wes kana le mangkat sik ati-ati…” 
    Sampai di kampus Gadjah Mada, tepatnya di kompleks Grha Sabha Pramana langsung memarkir motor dan mengeluarkan kamera dijital lantas macak mantes-manteske dengan gaya anak kekinian. Motret langit yang galau warna jingga, dengan kamera dijital hadiah dari simbah RM Suryo Wirawan yang ndilalah lagi kelarisan usaha kerisnya. Lagi asik motret, tiba-tiba muncul di lensaku seorang gadis mahasiswi baru.
    ” Isti, mau kemana kamu?”
    ” eh, mas Jat… anuuu mas ini anuuu mau cari makan…” Gadis ini tampak glagepen dengan aksen Jawa yang kental.
    ” Welah, sendirian aja? “
    ” Inggih, mas.”  Lah blaik dia malah mbasake.
    ” ngga usah inggah inggih, ini udah bukan jamane Pariyem dalam cerita Linus Suryadi lagi, yawes tak kancani po makanmu?”
    ” Inggih mas, ya sudah saya nderek mas saja…” dia masih mbasake dengan aku.
    ” Kandani, mulai sekarang ngoko aja ngomonge ma aku ya, kita kan sakpantaran.”
    ” Tapi kan mas Jatmiko…. ” sebelum selesai Isti bicara sudah ku gandeng tanganya ke motorku.
    Setelah Isti naik di boncengan motor lanangku, ada bakul gethuk keliling dengan pengeras suaranya mengumandangkan lagu Randa Kempling.
    … ndak pundhi mbak ayu badhe tindak pundi? dewekan apa ora wedi timbang nggangur kula purun ngancani… . 
    Lagune kok yo ngepasi dengan situasi dan kondisi yang sedang ku jalani sekarang. Sebelum makan, mampir dulu ke masjid Kampus karena adzan sudah berkumandang. Di gerbang masjid dicegat oleh mas-mas yang sudah kondang suka ngelingke dan ngelikke orang-orang yang berboncengan lawan jenis sebelum masuk masjid.
    ” mas-mas, muhrimnya bukan itu yang dibonceng?” tanyanya agak sengak.
    ” Adikku iki, rasah suudzon koe Na…” jawabku ketus langsung masuk ke parkiran.
    Syahdan sesudah salat maghrib tertunaikan lunas, tibalah kami di sebuah rumah makan ala benua biru eropah. Isti yang wong aseli Paliyan, Wonosari ini nampak lugu memandang keheranan ke sekeliling dan begitu juga ketika membaca buku menu.
    ” Niki maem opo mas?”  tanyanya.
    welah jebul ayu-ayu ndeso juga iki batinku. ” Maem ala eropah nduk, wes gek ditulis apa wae sik kok pengeni, rasah khawatir regane aku sik bayar..
    ” Ngapunten mas, kula nderek jenengan mawon sik pokok wonten nasi mawon.” lugu sekali gadis ini.
    Kupesan, zuppa soup sebagai appetizer, lantas main course-nya spaghetti carbonara, sementara untuk bocah ndeso ini kupesankan nasi goreng bungkus telur keju. Patut kuduga menu nasi goreng ini adalah hasil perdamaian antara lidah eropah dan Jawa. Lalu sebagai penutup kupesankan, pancake strawberry. Semua dalam rangka kalibrasi lidah agar tidak kagok ketika berhadapan dengan wong-wong eropah yang tetirah ke Jawa. Begini-begini, aku juga punya banyak kanca orang-orang bangsa eropah yang konon jarang mandi dan masakannya sangat minim bumbu itu. Orang-orang ini oleh Prabu Jayabaya dalam ramalan yang terkenal itu disebut bule rambut jagung. Sementara Kraton Surakarta yang baru saja mengakhiri surya kembarnya itu memiliki Pusaka Dalem Kebo bule Kyai Slamet, yang disebut demikian karena kulitnya kemerahan seperti orang bule eropah. Bule rambut jagung dan Kebo bule adalah dua hal yang demikian berbeda, wong yang satu kewan yang satu manungsa. Hanya saja perlakuan kita kedua makhluk itu sama, keduanya dihormati, disanjung, dan dipercaya membawa berkah.
    Sedang asik berkontemplasi dalam ruang pikiran sembari menikmati spaghetti carbonara yang sudah bercampur bumbu Indonesia ini, tiba-tiba Isti membuyarkan kontemplasiku.
    ” ini apem mas? ” sambil menunjuk pancake Strawberry.
    ” haaaa?….” hening, aku mengalami pedhot jiwa untuk sesaat saking kagetnya.
    Ada niatan untuk menceramahi gadis ini soal masakan eropah, tapi kuurungkan. Sungguh gadis ini tidak termasuk golongan yang latah budaya, betapa polos sifat Jawa-nya sampai-sampai sebuah pancake ia sebut sebagai apem. Ya dia mengenal sebuah pancake dengan apem. Apem yang sama dengan yang selalu direbutkan oleh banyak orang di Jatinom, Klaten tiap Saparan Ki Ageng Gribik tiba. Apem yang sama yang hadir bersama kolak dan ketan tiap ritus adat orang Jawa, khususnya yang berhubungan dengan kematian.Apem yang konon mengandung makna afuun dari bahasa arab yang berarti maaf. Lalu apa artinya Kyai pancake ini? terdengar dari belakang suara-suara super-ego : ” walaupun usahamu kebarat-baratan pertama-tama kamu tetap orang Timur, le….”
    ***
    Makan malamku dengan Isti selesai, ku antarkan ia pulang dan ku minta nomor telepon genggamnya. Putri Wonosari ini, kelak akan menemukan dunia yang berkembang, tidak sekedar pohon jati dan tanah kapur yang tandus. Ia kelak akan menemukan bahwa di negeri bernama Palestina sana masih ada penindasan yang terang-terangan dan dunia ini seolah diam tak bisa berbuat apa-apa. Ia kelak akan mengerti bahwa di negeri ini warisan pemerintah kolonial Belanda selain bangunan fisik, adalah bangunan mental : minder, korup, dan feodal. Ia akan segera menyadari bahwa dunia ini tidak se-lugu jalan pikirannya kini, dan semoga ia pun segera menyadari ada cahaya yang terang dari matanya yang mampu membuat siapa saja jatuh cinta. Semoga!
    ” opo kui Jat?” suara lik Tukino menanyakan bungkusan yang kubawa pulang.
    pancake, lik” jawabku sambil memberikan bungkusan ke lik Tukino.
    ” walah gene gur Apem ngene kok….” dan bahkan Lik Tukino menyebutnya apem.
    mencomot satu pancake sambil bicara ” Jat, tak omongi ya apem sik enak ki sik dampit rada jemek dan anget...”
     opo maneh iku lik….” tanyaku keheranan.
    ” Wes takono Pakdhe Erfan wae kana ning Seturan, mengko nak diterke golek ning kana…” Jawab Lik Tukino.
    ” Hash ora beres mesti iki nek urusane ro Pakdhe Erfan… ” jawabku.
     hahahaha, jajalo Jat jajaloooo…” Lik Tukino bicara sambil berlalu.
    Apem dan Apem Dampit, dan penjual gethuk itu lewat dengan pengeras suaranya menyanyikan lagu Randa Kempling :
    ….. eee tobil wong legan golek momongan…..
  • Senja segera akan terburai, pertanda akan segera badai. Lelaki itu tak beranjak dari ujung daratan, masih menatap ke lautan senja. Ia menemukan jejak senyum yang abadi di antara senja yang terburai. Dia jelas tidak lupa akan segera datang badai, sejelas dia mengingat senyum itu tak lagi ia miliki. Tapi ia tak beranjak pergi, tetap bertahan di ujung daratan. Mungkin ia akan segera mati, jika tak di selamatkan seorang nelayan. Nelayan yang mengenal setiap detil lautan dan daratan di ujung senja itu. Membawa lelaki itu ke gubuk peraduan tempat biasa mereka menikmati lautan.

    ***

    Matahari 2004 tak bersinar terlalu terik, masih ada seuntai teduh awan tempat menggantungkan sebait harapan. Selepas kelas usai seperti seorang anak sekolah menengah atas biasa, lelaki itu duduk memandang manusia-manusia yang sedang beranjak dewasa itu berhamburan mengejar angan. Tetapi, sesungguhnya dia sendiri pun menaruh sebuah harapan dari sekian banyak manusia yang berhamburan keluar itu. Matanya mencari sesosok arti yang telah beberapa lama memenuhi ruang arti di hati. Seperti menemukan senja yang jingga, matanya berbinar dia temukan yang dia cari. Bergegas tubuhnya bergerak mengejar senja, berharap menemukan senyum abadi.

    ” Hai Violin. ” Tenang lelaki itu menyapa.

    Tersenyum lalu menjawab ” Hai, Juve. Kamu tampak gembira ada apa?”

    dalam hati mendesis. ” Bahagia adalah mampu mengabadikan senyummu kini.”

    ” Ah, hanya mencoba menikmati arti bahagia yang sederhana.” jawab lelaki itu secara spontan.

    ” Apa itu bahagia yang sederhana?” penasaran mengembang di wajah Violin.

    Terkejut dan kelu dalam menjelaskan, namun lelaki tak pernah kehabisan akal dalam memikat wanita.

    ” Mungkin bisa kujelaskan tapi tak di sini tentunya, bagaimana kalau sambil menikmati segelas es krim?”

    Tersenyum, ” Kali ini aku tak bisa Juve, bagaimana kalau nanti malam saja kau ke rumahku?”

    Binggo umpan yang dilempar mendapatkan hasil yang lebih besar dari harapan, ” tuliskan saja alamat rumahmu Vio… ”

    Mengambil pena lalu menuliskan alamat di tangan Juve ” Jalan Bantul, Sebelum Perempatan, Selatan Masjid.

    ” Oke akan ku cari.. ” meski dalam hati menggerutu, ” adoh eee cahh….

    Musim semi hadir di sepanjang jalan mengiringi Juve pulang ke barat ke daerah Godean. Bunga-bunga mekar sepanjang jalan, tak sebaik dan semekar bunga-bunga dalam hati lelaki itu. Bahagia.

    ***

    Kehidupan itu singkat, waktu bergerak cepat mengantarkan kedua kekasih itu pada suatu malam di stasiun Tugu. Kereta Api Mutiara Selatan telah memasuki peron Stasiun segera mengantarkan lelaki itu menuju masa depan yang akan dia rakit di Institut Teknologi Bandung. Violin mengantarkan keberangkatan lelaki itu.

    ” Adakah kau akan setia menungguku pulang Vio?” lelaki itu bertanya dengan penuh harapan.

    ” Kau mengenalku sekian lama, apakah kau masih meragukanku? gadis itu mengembalikan pertanyaan si lelaki.

    Lalu klakson kereta berbunyi dengan keras, suara khas stasiun kereta pun bergema tanda kereta itu segera membawa lelaki itu pergi, dan si gadis hanya menatapnya sendu kereta itu yang bergegas tergesa membawa lelaki dan juga seluruh kenangan dan rasa yang ada besertanya ke barat tempat impiannya akan dirakit.

    ” Aku akan menunggumu. ” Gadis itu berbisik lirih.

    Lelaki itu menatap gadis itu berlalu dari balik kaca kereta. Harapan dan rasa rindu berdegup hidup di jantungnya.

    ***

    ” Kau ini kenapa anak muda? Apakah kau mencintai senja hingga tak rela ia pudar dan kau rela ditelan badai untuknya?” Tanya Nelayan tua pada lelaki itu, Juve.

    ” Aku masih yakin senja itu tak akan pernah pudar pak tua.” jawabnya.

    tersenyum kecil lantas menjawab. ” Bagaimana kau yakin senja itu tak akan pernah pudar sementara kau selalu tahu bahwa ada malam yang tak pernah lelah menunggunya pudar?

    ” Akulah malam itu, akulah yang selalu setia menunggu senja pudar dan menjadikannya abadi.” agak keras nada suaranya kini.

    ” Kau bahkan tahu senja akan pudar, lalu mengapa kau hadapi badai yang sudah ditakdirkan untuk mewarnai hari ini?” Nelayan tua itu dengan tenang bertanya pada Juve.

    Diam lama baru kemudian berkata-kata. ” Mungkin aku tak mengerti mengapa ku hadapi badai itu sendiri, tapi aku adalah malam yang tak lengkap tanpa senja yang menyatu di dalam diriku.

    “Nelayan tua itu lalu bertanya, ” lalu ke mana senja itu pergi? ”

    ” di dalam badai itu pak tua, dia ada di sana. ” jawab Juve lirih.

    ***

    Nada dering telepon genggam itu berbunyi. Juve sangat hafal bahwa nada dering itu dia setting hanya untuk seorang : Violin. Juve masih mengamati dengan seksama layar ponsel dan menikmati nada dering itu mengeluarkan bait dan nada.

    ” We’ve been through this such a long long time. Just tryin’ to kill the pain, ooh yeah. But lovers always come and lovers always go. And no one’s really sure who’s letting go today, walking away.”

    Seusai bait itu selesai baru dia angkat telepon itu. Tak ada yang memulai bicara, keduanya sama ingin diam. Tak ada yang memulai mengakhiri pembicaraan, keduanya sama ingin bicara. Keduanya sama-sama dalam kendali kenangan dan harapan. Keduanya sama-sama tak terkendali menikmati kenangan dan harapan. Sebelum mereka harus menghadapi sebuah kenyataan.

    ” Aku akan menikah.” Getar suara Vio nyaris parau menggema dispeaker telepon genggam itu. Suara itu mengirimkan sinyal ke otak Juve dengan cepat. Sesaat atau entah berapa lama otak itu hanya melakukan satu pekerjaan saja memutar kaset kenangan keduanya. Setelah pemutaran selesai, entah dari mana datangnya laki-laki itu bersuara.

    ” Selamat ya.., ada lagi yang ingin kau sampaikan?” Nadanya tak tertata, seperti hatinya yang runtuh saat ia ucapkan selamat.

    ” Maaf.” Nadanya lebih tertata, karena dia telah habiskan tangisnya bermalam-malam yang lalu sebelum ia beranikan diri bicara lewat telepon.

    ” Kau tahu aku tak pernah tak bisa memaafkanmu.” hening benar-benar hening tak ada lagi suara keduanya sebelum nada telepon ditutup berbunyi.

    Di ujung sana nun jauh dari Juve. Violin sedang menata kenangan satu persatu, tak semua ia kemas dengan rapi tapi semua bisa ia bawa. Berjalan mendekati samudera lalu sebelum tubuh itu menyentuh ujung samudera tubuh itu jatuh. Kenangan yang susah payah ia tata dan ia ajak ke tempat ini pun hanya hening tak berbuat apa-apa. Mereka tahu Violin tak akan lama-lama mengenang mereka dan akan segera melarung semua ke samudera. Mereka juga tahu Violin tak akan pernah melupakan mereka, karena kenangan itu abadi. Hanya tubuh kecil Violin yang jatuh diselimuti angin senja samudera yang tiba-tiba berubah tenang. Pasir pantai yang setia menunggu ombak datang, adalah penyimpan cerita terbaik. Pasir pantai tak pernah terburu-buru menjemput ombak, juga tak terburu-buru membangkitkan Violin dari ketidaksadarannya menjelang senja itu. Bersama-sama senja mereka menggelar panggung dan layar cerita.

    Suara angin samudera yang tenang itu berirama demikian ritmis dengan debur ombak. Pasir sebagai konduktor, tak terburu-buru memainkan pembukaan dari cerita ini. Dengan tenang suara-suara itu dia tata menjadi nada dalam sebuah set partitur. Dengan tenang ia meminta suara-suara itu untuk membaca naskah yang telah ia tata dalam satu babak drama yang panjang.

    Angin samudera membisikkan suara Juve begitu nyata. Violin membuka matanya, dunia yang ia lihat dunia yang berbeda. Hanya senja yang sama, yang lain terasa berwarna ungu, warna yang sangat ia sukai. Suara Juve masih mengitarinya. Violin masih meraba-raba kesadarannya mencarinya di antara pasir yang telah menyelimuti seluruh tubuhnya. Suara itu begitu hangat memeluknya dan membersihkan jejak pasir yang menyelimuti.

    ” Hai Vio, tenang-tenanglah aku masih di sini menunggu senja.” hangat Juve membelai rambutnya hingga ia tertidur kembali di senja yang kini berubah ungu. Erat tangannya menggenggam Juve. Lalu Juve mencium keningnya saat perlahan ia tertidur untuk kembali ke dunia di mana ia seharusnya berada.

    Ketika bangun Vio mendapati dirinya, dan semua kenangan yang ia bawa telah terduduk di sampingnya di sebuah gubuk di tepian samudera. Seorang Nelayan yang mengenal setiap detil lautan dan daratan di ujung senja itu sadar bahwa gadis yang ia selamatkan dari badai telah kembali ke dunia di mana ia seharusnya berada.

    ” Kau telah bangun anak muda.” nada nelayan itu berat.” Mengapa aku ada di sini kakek?” tanya Vio.

    ” Mengapa kau tanyakan itu padaku? Kau datang ke sini tentu dengan sebuah alasan bukan?” jawab Nelayan itu begitu dalam mengenai perasaan Vio. Air mata itu yang pernah ia keringkan demi sesuatu yang ia sebut cinta lagi-lagi mengalir.

    ” Aku adalah senja.” jawab Vio lirih.

    ” Senja bagi siapa anak muda?” tanya Nelayan itu.

    ” Bagi dia yang selalu menungguku datang.” jawab Vio lirih.

    ” Siapa dia?” kembali Nelayan itu meyakinkan.

    ” Dia ada di sana di dalam badai itu, kakek.” jawab Vio.

    ***

    Badai itu masih menderu-nderu. Setiap orang selalu tahu badai akan datang karena badai datang selalu membawa tanda. Setiap orang pun selalu tahu badai akan berlalu karena tak pernah ada yang abadi dunia. Juve masih menatap badai itu dengan resah, matanya menyapu dari ujung ke ujung horizon. Berharap ada secercah harapan yang tiba-tiba merekah dari langit gelap. Hanya saja langit malam ini adalah titisan dari jiwa yang bersemayam dalam hati lelaki itu. Badai menderu-nderu menggoyahkan perahu hatinya.

    ” Beberapa hari yang lalu ada seorang wanita muda datang ke sini, sama denganmu dia juga menunggu seseorang dalam badai. Kepadanya kuberikan dia sebuah nasihat, maukah kau juga mendengarkan nasihatku anak muda?” Tiba-tiba lamunan Juve buyar lalu ia mengangguk perlahan.

    ” Aku yakin dalam hatimu ada sebuah perahu yang sedang berlayar, semula perahu itu kau isi dengan segala muatan dan seorang awak yang sangat kau cintai. Kini perahu itu diterpa badai. Kamu, perahumu, dan segala isi yang ada di dalamnya memiliki pilihan, menyerah atau berjuang melawan badai?” jeda agak lama dari perkataan Nelayan itu memaksa Juve berpikir.

    ” Tenang anak muda, jangan kau tergesa-gesa menjawab pertanyaan itu. Banyak pujangga besar berkata : Kebahagiaan adalah sebuah pelayaran dan bukan pelabuhan. Ku kira ada benarnya juga kalimat itu. Pelabuhan bagiku yang nelayan ini adalah tempat sandar, lalu aku akan melepas lelah sejenak kemudian bergegas menjual ikan hasil tangkapanku. Lalu aku segera pulang dengan hasil pelayaranku bertemu dengan orang-orang yang ku cintai. Ketika aku tak pernah kembali lagi dari pelayaranku, ku yakin mereka tak akan menungguku di pelabuhan karena mereka mengerti pelabuhan hanya tempatku singgah. Rumahku bukan pelabuhan, rumahku ada di sana bersama orang-orang yang ku cintai dan demi mereka aku berlayar. ” Ucapan kakek itu dipotong Juve.

    ” Demi gadis itu aku berlayar.” Jawab Juve terserak.

    ” Ya aku tahu kau akan berlayar demi gadis itu. Demikian juga gadis itu akan berlayar demi kamu. Tapi apakah kalian berlayar menuju satu pelabuhan atau kalian berlayar menuju satu tujuan?” Juve hanya menyisakan hening dan wajahnya semakin tertunduk.

    ” Pelabuhan adalah persinggahan dari sebuah pelayaran, dari sebuah kebahagiaan. Pelabuhan hanya mengerti orang-orang datang dan pergi dengan segenap urusannya masing-masing dan dia dengan setia menjadi sebuah persinggahan. Dia sadar sepenuhnya ketika orang-orang ini singgah tujuan utama mereka bukan di sini. Kebahagiaan yang mereka cari adalah perlayaran mereka yang akan terus berjalan.” Ombak tak lagi bergolak, langit gelap perlahan sirna. Sinar bulan muncul seolah meredakan gejolak ombak. Meski jarak mereka jauh, mereka terhubung pada jaringan gelombang yang rensonans sehingga Bulan mampu mengendalikan ombak.

    ***

    Pernikahan itu digelar pada tanggal yang tak memungkinkan Juve untuk datang. Violin mengerti jarak mereka berdua sedemikian jauh. Tapi ia tahu ada gravitasi di sana yang mampu membuat hatinya mengombak naik dan kadang pun tiba-tiba turun. Vio menatap jauh ke dalam barisan tamu yang datang. Senyum mengembang di semua tamu yang datang. Merayakan sebuah hari yang penuh kebahagiaan. ” Selamat menempuh hidup baru dalam bahtera rumah tangga.”. Ia telah memulai pelayaran barunya. Dia akan berhenti bersama dengan pendamping pelayaran pada setiap pelabuhan yang mereka ingin singgahi. Mereka akan terus berlayar hingga mereka tak lagi satu nafas.

    Di antara para tamu itu, Nelayan tua itu hadir dengan pakaian serba putih. Ia darang tapii ia tak pernah sampai ke pelaminan Vio untuk mengucapkan selamat. Tapi Vio mengerti ia datang sebagai utusan orang yang sangat ia sayangi yang sudah memulai pelayaran ke keabadian. Demikian juga Juve yang jauh di sana walau kesedihannya belum menemukan ujung ia tahu Nelayan tua itu tidak datang tanpa alasan.

    Ia masih merenungkan nasihat Nelayan tua itu : ” Hatimu memiliki ruang-ruang yang dalam dan penuh misteri, hanya kau yang punya kunci untuk masuk dalam ruang paling misteri itu. Sementara yang mengisi ruang-ruang dalam hatimu akan tetap ada di sana. Hanya hati selalu memiliki ruang lain untuk orang yang kau percaya memiliki kunci untuk masuk ke dalam hatimu yang kau persembahkan khusus untuknya. Sisanya hanya kamu dan Sang Maha Pembolak-balik Hati yang Tahu”

     

     

    – Tamat.

     

    Untuk temanku,Semoga Pelayaranmu menemukan jalan yang benar, jalannya orang-orang yang dianugerahi nikmat dan bukan jalannya orang-orang munafik apalagi sesat.



  • Lalu aku terbaring dalam tepian samudra yang luas. Menghayalkan luas samudera hatimu, apakah setetes rasaku mampu merubah rasa samuderamu. Dan angkasa biru di pantai itu, memancar dalam warna samudera, biru penuh haru. Aku mengira hatimu biru dan aku berpikir bisakah segores cintaku mengubah warna hatimu? Pantai dengan pasir yang putih dan ombak dengan buih putih saling berkejaran. Aku mencoba memandangimu yang begitu jauh, tidak di pantai ini. Lalu aku berharap ombak kasihku mampu mengejar ombak kasihmu dan menepi di pantaimu dengan kasih yang putih.

    Walau setetes rasaku hanya larut dalam samuderamu dan segores cintaku hanya mencoret hatimu, lalu ombak kasihku tak mampu mengejar ombak kasihmu untuk menyentuh tepi pantaimu. Akulah yang akan tetap berada di suatu pantai yang akan mendengar suaramu dalam deru yang riuh, dan membaca kata-katamu dalam buih yang mengental. Karena Akulah kasih yang setegar karang.

    Dan aku membicarakan sebuah pembicaraan yang kelu. Sebenarnya banyak yang ingin tertumpahkan saat malam itu kita bertemu. Hanya sekedar bertemu saja dan lalu berlalu. Kembali aku hanya akan mendegar keluhanmu tentang lelaki yang selalu membayangi hidupmu itu. Walau sesungguhnya ingin kukatakan kau mengeluhkan tentang rasa tentang lelaki itu yang kadang aku iri dan ingin menjadi lelaki itu. Tapi aku sadar kau selalu mengeluh tentangnya, kepadaku dan aku tak ingin kau mengeluh tentangku kepada lelaki itu,lelaki manapun.

    Ah, malam ini tetap menjadi seperti malam yang lalu. Berlalu dengan dingin, meski dalam hati menderu-deru rasa yang biru. Meski kau bagai malam ini yang berlalu dingin. Kuharap pagi nanti, atau setidaknya suatu pagi nanti kau mengerti ini. Walau aku tahu kadang kau terlalu lama untuk mengerti. Ah, semoga semut hitam yang merayapi dinding kamarku mengerti ini. Selamat malam kuucapkan padanya.

    ***

    Tersadar di kala udara Juli membekapku dengan dingin. Sedingin kala, kaki Merbabu menghempaskan hujan dan anginnya di malam yang gelap, ketika ku terduduk dalam sebuah tenda dengan segelas teh hangat dalam kantuk yang luar biasa.

    Semut hitam, masih setia merayapi dinding putih kamarku. Masih saja memanjang membentuk sebuah garis yang tak terbatas. Membuat aku menerawang jauh, kau bagai semut itu merayapi dinding hatiku tetapi kau bukan pemilik dinding itu, dan aku juga bukan pemilikmu. Dan kau membuat garis yang seolah tanpa batas, garis rasa dalam semburat kasih dalam ruang imaji. Namun seperti pertemuanku dengan semut itu. Kita hanya bertemu sementara dalam sebuah perlintasan, kamar ini. Ruang kehidupan sesaatku dan sesaatmu.

    Lalu kulihat ada beberapa pesan dalam telepon genggamku, salah satunya darimu dan seperti biasa masih saja kau berbicara tentang lelaki itu. Tentang bagaimana kau melalui malam ini dengan segala emosi yang entah. Dan lalu aku hanya sekedar membaca saja dan enggan bagiku untuk segera membalas pesanmu.Aku mulai jengah.

    Matahari lalu semakin tinggi,udara tak lagi dingin berbarengan dengan hening subuh yang sudah lama berlalu, dan selalu saja terlewat begitu saja. Saatnya bangun dari kejengahan ini. Lalu dalam telingaku terngiang suara seorang kawan, ‘ Kali ini ku berharap lebih didengar !’. apakah kamu tidak mendengar suaraku?

    Dengar dengarlah suaraku yang akan selalu menggema di lembahan hatimu, ketika deru dingin merayapi jengkalnya! Dengar dengarlah suaraku yang akan selalu memecah riuh berisik riam hatimu, dan akan menjadi batu kali yang mendekap erat arusmu! Dengar dengarlah suaraku dalam gelap syahdu goa hatimu, yang menjadi cahaya haru kala gelap merundungmu.

    Lalu, telepon genggamku bergetar, kau meneleponku, berbicara sesuatu yang memaksakku untuk bangun. ‘Bangunlah!

    Teleponmu pagi itu benar-benar memaksaku untuk bangun. Seuntai kalimat kecil yang kau ucapkan pagi ini, bagai percikan air yang begitu menggugah, hanya seuntai kalimat kecil, ” Ayo Semeru..”. Ya hanya sesingkat itu kau berkata dan tanpa sempat menjawab apa-apa segera kau tutup telepon itu dan kau memberikan pesan singkat untuk segera mengatur pertemuan membahas rencana itu. Sebuah permintaan yang hebat, suatu tempat yang aku ingini, sangat aku ingini untuk kujamahi puncaknya. Tapi, tak pernah terbayang perjalanan ke tempat ini akan ku lakoni bersamamu. Kau akan ada dalam tipis udara dimana hidungku harus bersusah payah menangkap udara, dan kau akan ada ketika dingin udara itu menerpa tubuhku, dan kita akan berbagai beban yang akan memeluk punggung kita erat-erat dalam setiap langkah kita. Sungguhpun kabar itu menjadi lonceng yang mengejutkanku pagi ini, sesungguhnya tak sabar rasanya menjejakan kaki di puncak Mahameru dan memuaskan mata memandangi indahnya air Ranu Kumbolo serta telentang di sabananya di bawah kaki langit biru.

    ***

    Tempat ini belum pernah ku datangi sebelumnya, tetapi cerita tentang keajaiban yang ada di sana begitu banyak mengundang orang untuk mendatanginya. Sebagaimana, aku dan kamu yang memang terlahir dan seolah besar dalam rajutan kasih sayang belantara dan dingin lembahan di kala fajar mengintip menjadi sebuah sarapan yang mengisi imajinasi, dan berharap senjakala menjadi hidangan penutup sebelum tertidur dalam malam ketika api unggun di luar menyala dan menjadi terang dan penghangat dalam gelap dan dinginnya gunung. Sehingga, aku dan kau pun lalu menjadi satu di antara sekian banyak orang yang terpanggil untuk segera memeluk mesra keajaiban itu. Meski aku dan kamu kini sedang menjamahi derasnya air lain yang memberi nuansa lain dari pengembaraan kehidupanku dan kehidupanmu sebagai seorang yang dibesarkan di bawah embun gunung.

    Teringat pendakian terakhir yang kujalani dan seuntai bait yang kutuliskan dalam dingin fajar, yang entah itu tercipta untukmu atau seseorang yang lain, tapi tiap baitnya kubaca kembali dan kini wajahmu yang hadir di sana.

    wajahmu tergambar penuh haru

    ketika matahari merah timur itu

    memunculkan cahya yang syahdu

    ketika angin gunung menerpa wajahku

    ingin kuberbisik dalam dingin Merbabu

    simpan dan jaga erat-erat ini rindu

    agar kelak aku kembali ke peraduanmu d

    an kau akan tahu aku senantiasa akan mengasihimu

    di kala fajar hingga senjamu

    dan hari ini aku menyayangimu

    ***

    Segera aku beranjak dan mengatur pertemuanku denganmu, hari ini untuk duduk bersama di sebuah angkringan di mana kawan-kawan sering menghabiskan waktu bersama. Bagaimanapun juga entah kamu dalam suasana apa hingga tiba-tiba ide Semeru muncul, ini tetap sebuah perjalanan yang harus diatur dengan seksama karena bahaya di depan begitu nyata. Ku buat sebuah pesan singkat, ” Ven.. Harjo jam satu aja kita bahas dulu…”

    ***

    Siapakah kau yang sesungguhnya mungkin aku tidak pernah bercerita. Aku hanya selalu bercerita tentang bagaimana kau berkeluh kesah tentang lelaki itu tetapi tidak bercerita tentang kau yang sesungguhnya dari sudut pandang manusiaku. Bagiku kau adalah sang dewi gunung dalam riuh jeram.

    Kau bagai titisan embun yang dilepas oleh dedaunan cemara dan rerumputan ketika subuh semakin menjelang, dan kau memberikan tetes-tetes kesejukan dalam tanah yang semula kering berdebu dan hanya ada guguran daun cemara. Kau kesejukan yang nyata yang dibentuk oleh embun pagi ini menjelang fajar yang membangunkan hatiku dengan percikan yang basah yang lalu dengan tenang kau buai dengan belaian kasih seperti embun gunung membelai pucuk-pucuk ilalang. Kaulah putri embun gunung.

    Kau bagai kabut tipis turun perlahan dalam lembahan hatiku yang mengaduk-aduk lembahan ini dengan dingin lalu perlahan kau membentuk nuansa yang syahdu. Kaulah yang merubah nuansa hatiku dan membuatku mencari jalan menembus kabut ini dan menemukan di mana kau menyembunyikan perubah nuansa hati ini. Di dalam kabut hatimu jua di sanalah aku akan menemukannya dan akan aku dekap erat dan tak akan kulepas hatimu itu. Kaulah tiara tersembunyi dalam kabut.

    Sesungguhnya kaulah dewi gunung, yang lahir dari titisan embun dan bermain dalam kabut. Kau yang akan keluar dari kabut tipis dengan memakai tiara yang indah yang terbuat dari rajutan ilalang serta guguran bunga cemara bertahtakan permata dari perut gunung yang tersembunyi dalam lapisan batuan tua tak tersentuh dan tersembunyi dalam pekat kabut. Aku lah yang akan menemukanmu dan mengajakmu dalam pengembaraan kehidupanku.

    Dan dalam kehidupanku dalam tiap riuh jeram yang akan kulewati, ingin kujadikan engkau dewi gunung dalam riuh jeram dengan tiara baru yang akan kupahatkan dari bebatuan terindah yang ada di sungaiku. Lalu akan kupasangkan dengan manis sehingga akan menjadi pelindungmu, dari derasnya jeram yang lalu akan kita lewati bersama. Inilah persembahan kecil dariku, yang ingin kuberikan kepadamu.

    ***

    Tetaplah di sana, waktu itu pasti akan tiba jua. Ketika edelweisz di Agustus mekar dan aku akan berada dalam ilalang hatimu pada waktu itu. Ketika deras hujan di Januari membuat jeram semakin riuh, akulah yang akan menembusnya dan datang kepadamu dengan segenggam asa yang tak pernah akan padam walau ditelan jeram. Aku akan bicara, pasti akan bicara tentang semuan rasa. Dan embun dan kabut serta riuh jeram akan menyaksikannya.

    Pukul 01.00 aku sudah berada di Harjo. Memandang sekitar memang ramai dengan sekumpulan orang-orang yang memilih untuk melepas lelah dan rasa laparnya di warung yang cukup ramai ini. Dan kemudian, ramailah dengan obrolan dan canda khas kehidupan Jogja. Guyon maton, tapi ra waton guyon, terjadi di sana. Aku kemudian mengabarkan kepadamu jika aku sudah di Harjo. Satu jam lebih aku menunggu tapi kau tak kunjung tiba dan memberi sebuah kabar.

    Dua jam sudah aku menanti dalam gamang dan tiada kabar. Teringat lagu yang pernah menjadi hits ketika, seorang kawan dirundung cinta, ” Waiting In Vain ” Bob Marley memang terasa terngiang dalam telinga. Memikirkan kembali yang telah kulakukan apakah hanya sebuah penantian untuk sebuah kesia-siaan. Aku hanya bisa bertanya dan tak bisa menjawab. Akhirnya aku memilih untuk lepas dari pikiranku itu.

    ***

    Akhirnya aku merasa lelah. Kau memasang tembok yang cukup besar untuk memagari hatimu, yang membuat orang lain sulit untuk sekedar melihat ke dalam hatimu. Atau bahkan meraba hatimu. Butuh sebuah usaha yang keras untuk merobohkan tembok itu. Entah mengapa kau memasang tembok itu untuk memagari hatimu. Seolah kau menyimpan rahasia yang besar dalam hatimu yang tak ingin orang lain tahu atau bahkan kau menyimpan luka yang demikian mendalam yang tak dapat disembuhkan. Atau kau dalam kebingungan dan kau coba tutupi dengan tembok yang besar itu? Yang jelas terlihat olehku, adalah kau masih mengasihi lelaki itu, yang pernah memberimu kasih. Dan lalu kau kini kau tak mau membuka hatimu kembali, dan kau menutup pintu hatimu.

    Kau mencoba untuk tegar dan kuat. Meski sungguh aku melihat kau yang sangat-sangat rapuh. Yang berada dalam badai dan tak tahu arah. Bak perahu tanpa nahkoda, tetapi ada lelaki itu yang mampu menjadi mercusuar yang akan membimbingmu dan kamu akan selamat. Kalian memang pantai dan laut yang indah, tapi kalian ibarat kapal dan mercusuar yang menjalin simbiosa yang cantik meski harus terpisah oleh sejengkal daratan.

    ***

    Setelah dua jam menanti dan tiba-tiba kau memberi kabar.” Jika ingin bertemu mending kita bertemu di Beteng Vredeburg sekarang aku lagi di sini….”. Lalu segera aku menuju tempatmu. Sepanjang perjalanan hanya tersisa tanya dalam hatiku, apa yang kau lakukan di tempat itu? Dan ketika tiba di sana dan aku melihatmu, kau tak banyak berkata hanya tiba-tiba memintaku untuk pergi ke arah Wonosari. Dan anehnya, Aku hanya menurut saja.

    Sepintas lalu tadi kulihat ada setitik kaca di matamu, dan semburat duka di air mukamu. Sepanjang perjalananan kau hanya diam dan sesekali ku dengar sesenggukan. Aku tak berani bertanya ada apa dan kenapa. Hari ini nalarku tak jalan dan entah aku juga tak tahu apa yang kupikirkan dan seharusnya apa yang kulakukan kini dengan wanita yang menangis dan duduk di belakangku. Padahal bukan kali ini saja aku menghadapi wanita yang menangis, tapi entah mengapa aku menjadi kaku. Sehingga perjalanan sepanjang itu hanya berlalu dengan dingin. Dan langit sore itu menjingga, Jogja begitu cerah jalan Wonosari tak begitu padat. Dan aku menjalankan motorku dengan kecepatan penuh. Secara tiba-tiba kau berkata ” Ke Candi Boko aja”. Lagi-lagi aku hanya menurut dan mengiyakan. Lalu kini dadaku semakin sesak saja, ada emosi yang tertahan begitu berat.

    Sesampai di Candi Boko, kau langsung mengajakku menuju pelataran Candi di tempat dimana bisa memandang indah Merapi dan senja yang begitu menjingga. Kau hanya mengajakku duduk melihat itu. Tapi kau tak berkata apa-apa, dan sama juga denganku. Tak ada kata yang terucap dari mulutku yang senantiasa liar, malaikat seolah mengunci mulutku dan menguras otakku dari sejuta diksi yang kupunya.

    Tapi aku tahu kau begitu menikmati senja ini. Air mukamu tak lagi menunjukkan duka. Seutas senyum yang ingin selalu ku lihat saat ku bersamamu kembali muncul.

    ” Aku rindu, dingin Merapi dan ilalang Merbabu…” katanya. ” Ayo ke Merapi sekarang….” jawabku seutas kalimat yang terucap tiba-tiba. ” Nekat kamu, katanya mau membahas Semeru?” kata-katanya begitu menggugahku dan aku baru tersadar itu tujuanku mengajaknya bertemu. ” Mengapa kamu menangis?” ” Kau pasti tahu, aku tak perlu banyak menjelaskan.”

    Aku mahfum apa yang terjadi. Senja di barat makin menjingga. Emosiku semakin berat untuk ku tahan dan dada terasa semakin sesak. Teringat sebuah puisi Sapardi Djoko Damono.

    Hatiku selembar daun

    Melayang jatuh di rumput

    Nanti dulu Biarkan aku sejenak terbaring di sini

    Ada yang masih ingin ku pandang

    yang selama ini senantiasa luput

    Sesaat adalah abadi

    Sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi

    Kesempatan seperti ini sangat jarang terjadi, setiap pertemuanku dengannya selalu saja berlalu dingin dan jarang sehangat ini. Tetapi, memang saat-saat yang selalu luput itu saat-saat yang begitu terekam indah. Lantas lalu aku bersajak kepadanya.

    malaikat mengaduk-aduk hatiku dan lalu seutas kata terucap dalam syahdu hening malam ingin ku berkata aku sayang padamu dengan penuh rayuan yang klise nan usang yang itu bukan diriku lalu setiap hening malam syahdu aku hanya bisu dan berdusta kepada nyata

    ” Mengapa kau bersajak?”

    ” Karena aku hanya ingin kau tahu aku mengasihimu, tapi aku tak berharap terlalu jauh kau berkata aku juga mengasihimu. Aku senang melihatmu tersenyum, maka tersenyumlah…”

    ( warnet, Elo, rumah, Yogyarkarta, Sekitaran 2008-2009)

  • Ruang itu hanya empat kali delapan panjangnya

    tambah dari parkiran mungkin tambah satu setengah meter saja.

    di pojok ada dua wanita dan satu pria duduk sesuai menghabiskan makannya

    aku baru saja datang dan segera memesan karena lapar begitu terasa

    nasi dan lauk serta minum, sarapan sebelum jumatan ada di atas meja

    tiga manusia di pojokan masih saja ribut bicara dan tertawa

    dari gaya sebagai identitas golongan, mereka bukan orang tak berpunya

    generasi baru orang-orang berpunya yang gamang ditelan perubahan.

    cacing-cacing nyaris saja melakukan revolusi andai saja tak segera

    ku kirim nasi-nasi yang manis dan sepotong ayam goreng sebagai tanda

    “revolusi tak akan berjalan jika tubuhmu terlalu kenyang” lalu revolusi reda.

    Ruang itu hanya empat kali delapan panjangnya

    tambah dari parkiran mungkin tambah satu setengah meter saja

    aku bisa berjalan dari pojok tempat tiga manusia itu tertawa-tawa

    sampai ke penjual makanan dan lalu membayar tak perlu waktu lama

    tiba-tiba ada seorang Ibu memarkir sebuah sepeda dan rombong bawaannya

    dia berjalan dari parkiran ke penjual butuh waktu dua kali lebih lama

    tubuhnya tidak seperti aku tidak seperti tiga manusia di pojok sana

    untuk membayar dia butuh lima kali lebih lama dariku, padahal dia memesan nasi saja.

    aku, seperti juga tiga manusia di pojok sana seperti cacing-cacing hanya bisa meminta

    si Ibu butuh waktu lima kali lebih lama karena dia tidak meminta dia berusaha.

    “apa yang lebih baik dari:  nasib, miskin, ketimpangan dan kelaparan untuk membuat revolusi menyala”

    catatan :

    hanya revolusi belum mulai di pojokan sana, tiga manusia masih tertawa-tawa

    datang seorang pengamen, seorang bapak tua. Mereka acuh tak merogoh sakunya.

    segera kuhabiskan makanku yang susah payah kuhabiskan saking gamangnya

    ku ambil selembar uang dari saku cepat, tak lama setelah aku sampai pojokkan mereka.

    kuserahkan pada si bapak tua, tak adil rasanya

    si ibu berusaha dan si bapak tua sekedar meminta. Namun jika,

    kuserahkan pada si ibu, tak adil juga rasanya,

    si ibu berusaha tidak meminta-minta.

    Lalu kita?

  • Suatu malam saya terlahir di tanah sisa dari tahta Mataram Islam, yang telah terpecah menjadi Kasunanan, Kasultanan dan dua Kadipaten karena penjajah mengerti bahwa mereka tak pernah lelah bahkan rela menumpahkan darah daripada menyerah pada penjajah. Politik devide et impera, memecah belah kerajaan Mataram Islam pun lalu diterapkan oleh Kolonial Belanda, penerusnya Inggris pun turut bertindak serupa, namun perlawanan ternyata tak pernah surut. Membela kemerdekaan dengan semangat sadumuk batuk sanyari bumi, demi kemuliaan tanah leluhur demi kemuliaan penerus leluhur semangat itu tak pernah kendur atau luntur.

    Tentu Tuhan tidak tanpa alasan menggariskan saya terlahir di salah satu bagian pecahan dari kerajaan Mataram Islam itu, terlahir di tanah Kasultanan Ngayogyakarta Hadingrat yang dipimpin oleh Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Senopati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Hamengku Buwana, gelar lengkap dari Sinuhun Ngarsa Dalem yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan Sri Sultan Hamengku Buwana. Tahun 1989 saya lahir, dan Sultan yang berkuasa adalah Sri Sultan Hamengkubuwana ke X. Ngarsa Dalem junjungan saya, dengan gelar lengkap itu memiliki makna, bahwa Raja yang kami hormati ini adalah Pemimpin Rakyat, Pemimpin Perang, sekaligus Pemimpin Agama kami, agama Islam. Raja pemimpin orang-orang Jawa, dengan semangat dan kebudayaan Jawa yang adiluhung dan penuh dengan pranata sosial dan unggah-ungguh untuk menempatkan manusia sesuai posisi dan kedudukannya. Raja adalah simbol, dan panutan yang berada di struktur tinggi sebelum Gusti Murbeng Dumadi, yang bersama rakyatnya akan mengemban sikap hamehayu hayuning bawana, menjaga keselarasan dunia beserta isinya agar kehidupan manusia tentram dan mulia.

    Dengan penjelasan pandum laku yang harus diterima oleh Sultan sebagai Ngarsa Dalem dari segenap rakyatnya itu tentu bukan laku yang bisa dilakukan oleh pribadi sembarangan, hanya pribadi dengan ketatagan batin dan susila yang utuh yang bisa melaksanakan. Laku seorang Sultan, adalah laku yang hati-hati karena segala tindak tanduk bahkan tutur kata pun terikat dalam sebuah unggah-ungguh yang telah berlaku dari jaman dahulu, bahwa sabda Pandita Ratu tan kena wola wali. Tutur kata dan perilaku seorang raja adalah sebuah contoh ing ngarsa sung tulada yang akan dipahami dan ditiru oleh seluruh rakyat dengan semangat tut wuri handayani mengikuti Raja untuk kemuliaan. Maka, lalu perilaku Raja sebagai rolemodel dari rakyatnya haruslah jejeg lurus perilakunya, tak boleh wola wali atau berganti-ganti sikap dengan sikap jejeg itu kewibawaan Raja terjaga, maka sesuai pribadi masyarakat Jawa yang menempatkan sesuatu berdasarkan hirarki kedudukan untuk keselarasan hidup pun akan tercipta akhirnya inilah titah seluruh manusia Jawa untuk senantiasa hamemayu hayuning bawana.

    Sultan Hamengku Buwana (HB) X, kini menjalankan titah Raja. Junjungan Rakyat Kasultanan, sekaligus secara administratif menjadi Gubernur dari Daerah Istimewa Yogyakarta, propinsi yang mendapatkan gelar istimewa ini tentu bukan tanpa alasan atau sekedar sebuah gelar untuk dibangga-banggakan semata. Lebih dari itu bahwa gelar istimewa itu lahir karena faktor sejarah, dan karena memang faktor masyarakat yang tinggal di dalamnya memang sudah ‘istimewa” tanpa perlu gelar istimewa. Pengakuan hal ini tentu dapat disaksikan oleh segenap mahasiswa yang tinggal di wilayah ini ketika mereka menjalankan proses belajar di sini. Sementar soal isu keistimewaan Yogyakarta yang tak kunjung rampung dan selalu menimbulkan polemik adalah persoalan lain yang memang perlu segera dituntaskan, akan tetapi terlepas dari soal itu Sejarah sudah membuktikan betapa tanah ini memang istimewa, dan dari tanah yang istimewa ini pun lahir seorang Pemimpin yang juga istimewa, beliau adalah Sri Sultan Hamengku Buwana (HB) IX.

    Tentang HB IX

    Lahir pada tanggal 12 April 1912, peringatan satu abad beliau baru saja terlampaui tahun ini. Dengan nama kecil Dorodjatun, sejak kecil sudah hidup dan menempuh pendidikan Belanda, bahkan beliau sempat menempuh pendidikan di Rijkuniversiteit yang sekarang terkenal dengan sebuatan Universitas Leiden pusat penyimpanan jejak-jejak antropologis dan kebudayaan bangsa ini. Ketika berada di negeri Belanda, Dorodjatun lebih kerap dipanggil Henkie banyak belajar tentang modernitas, akan tetapi sebagai bagian dari ilmu modern yang beliau serap beliau tetap berkata bahwa sebagai seorang manusia dan pribadi Jawa tidak boleh luntur identitas asli sebagai seorang Jawa. Ilmu modern bisa jadi alat untuk mengantarkan kemajuan di tanah Jawa, akan tetapi untuk membuat manusia Jawa berbudaya dan tercerahkan pegangan utama tetap adalah nilai-nilai Jawa sebagai cahaya penuntung, ibarat blencong lampu dalam pewayangan untuk menunjukkan sejatining tataran laku, atau laku pribadi yang sejati.

    Tak heran, ketika beliau akhirnya bertahta pada 18 Maret 1940, beliau menjadi pemimpin dengan diafragma berpikir yang modern sekaligus berakar kultural mikul duwur mendem jero terhadap nilai dan kebudayaan Jawa. Semangat perjuangan untuk memberikan perlindungan dan pendidikan untuk masyarakat Jawa, maka tak heran ketika Yogyakarta tumbuh sebagai pusat pergerakan gerakan-gerakan sosial dan pendidikan untuk kemajuan bangsa semacam Tamansiswa, Muhammadiyah serta gerakan sosial lain, karena memang dukungan dari rakyat Yogya serta pemimpinnya demikian besar. Ketika penjajahan Jepang masuk ke Indonesia, kraton tetap punya suara karena keteguhan sikap HB IX untuk tidak mengirimkan rakyat jadi romusha keluar Yogya akan tetapi seluruh warga bergotong royong membangun selokan Mataram yang kelak kemudian akan bermanfaat bagi pertanian warga, bahkan manfaat dari selokan Mataram ini bisa dirasakan hingga kini.

    Menjalani lakunya sebagai seorang pemimpin Rakyat, Pemimpin Perang, Pemimpin Agama, ketika Indonesia menyatakan kemerdekaan dari Belanda HB IX lantas membuat maklumat 5 September 1945 yang berisi dukungan kepada Republik Indonesia dan menyatakan diri bergabung ke Republik. Dukungan semangat kepada Republik,serta semangat kebangsaan dan nasionalitas melambari pribadi HB IX, hingga kemudian Belanda kembali berusaha menjajah dengan menyerang Ibu Kota, HB IX merelakan kota Yogyakarta dijadikan Ibu Kota meskipun resiko berhadapan dan diserang Belanda menjadi lebih besar. Bahkan HB IX tak tanggung-tanggung memberikan dana 5 juta gulden kekayaaan Kraton untuk Republik agar tetap bisa berdegup hidup. Lalu akhirnya Yogyakarta diserang Belanda lewat Agresi Militer Belanda II, akan tetapi eksistensi HB IX dan Kraton tak lantas surut. Kraton menjadi wilayah yang bebas dari Belanda dan dilindungi HB IX. Belanda gentar menghadapi HB IX yang langsung pasang badan untuk melindungi Kraton dan seluruh rakyat. Hingga akhirnya Serangan Oemoem 1 Maret 1949 berhasil dilaksanakan, pembahasan rencana dan strategi tak lepas dari dukungan Kraton dan Ide brilian dari HB IX. SO 1 Maret 1949 ini jugalah titik awal kemunduran Belanda dan kebangkitan perjuangan Republik yang dibayar lunas dengan pengakuan kedaulatan Republik oleh Kerajaan Belanda. Atas jasa-jasa HB IX maka layaklah ketika beliau ditunjuk sebagai wakil Indonesia untuk menandatangani dokumen pengakuan kedaulatan tersebut di Jakarta tanggal 27 Desember 1949.

    HB IX lantas kita kenal juga atas jasa-jasanya untuk kemajuan Universitas Gadjah Mada, Kraton selalu ngopeni Universitas muda ini, dari mulai mengizinkan penggunaan Pagelaran Kraton sebagai tempat belajar mengajar serta lalu memberikan tanah yang luas di Bulaksumur untuk didirikan universitas. Tanpa peran HB IX dan kraton Yogyakarta mustahil Universitas mampu bertahan di tengah gelombang dan kondisi awal Republik yang masih perlu menata pembangunan. Jika kini kemudian lahir cendekiawan-cendekiawan dari kampus ini, tentu juga harus memahami bahwa kampus ini pun berakar dari semangat perjuangan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan yang digelorakan HB IX sehingga semangat itupun harus ditularkan dalam setiap pengajaran untuk membentuk budi pekerti yang luhur, bukan sarjana calon penganggur dengan semangat kebudayaan yang luntur dan nasionalisme yang kendur.

    Kini beliau telah mendahului kita, 2 Oktober 1988 beliau mangkat. Meskipun tak pernah mengalami kepemimpinan beliau, tapi dari cara rakyat Yogyakarta menyambut kedatangannya dari Amerika untuk dimakamkan di Imogiri yang berjajar berduka menandakan bahwa seorang pemimpin besar telah tiada. Kini namanya tidak pernah diabadikan menjadi nama jalan, tapi tiap namanya disebut ada degup yang bergetar di dada mengingat segala perjuangan yang pernah beliau abadikan.

    Sadumuk Batuk Sanyari Bumi

    Kata-kata itu benar-benar terekam dengan jelas dalam memori di pikiran saya. Tulisan itu tertulis di dinding limasan milik mbah Udi Sutrisno, beliau adalah adik kandung mbah Maridjan almarhum Juru Kunci Merapi. Baik rumah, mbah Udi Sutrisno, ataupun mbah Maridjan kini telah mendahului kita menghadap sang Khalik, tapi rumah yang senantiasa jadi rumah kedua setiap kali menaiki atau menjelejahi lereng Merapi ataupun mbah Udi Sutrisno si pemilik, serta mbah Maridjan tak pernah hilang dari ingatan saya. Salah satu peninggalan di memori saya adalah tentang tulisan ” sadumuk batuk sanyari bumi “ , suatu ketika saya tanyakan artinya kepada mbah Udi dan beliau menjawab : ” menika artinipun senadyan namung nggadahi gadahan namung sak dumukan batuk, utawa saknyarine bumi, kedah tansah kita belani senajan kedah nemoni pejah, supados tetap utuh. Gadahan meniko inggih meniko tanah gesang negari lan sadaya kang wonten ing tanah meniko serta kehormatan lan ajining bangsa” .

    Penjabaran makna dalam bahasa Indonesia, bahwa meskipun kekayaan dan tanah air kita hanya selebar jidat dan hanya selebar jari-jari tangan kita yang kita taruh di tanah, akan tetapi harus dijaga tetap utuh, apalagi jika hal tersebut berhubungan dengan kehormatan diri dan bangsa. HB IX, adalah sosok yang bisa jadi telah menerapkan prinsip itu dalam perjalanan hidup kebangsaan. Mbah Udi dan Mbah Maridjan pun saya yakini sangat dekat dengan sosok HB IX, karena sesembahan mereka yang sangat mereka hormati dan cintai ini gemar menyepi di lereng Merapi untuk menjaga kesucian pikiran. Tentu saja, sosok-sosok mbah Udi dan mbah Maridjan pun meniru laku dari Ngarsa Dalem maka semangat perjuangan beliau pun kemudian hidup dalam pribadi mbah Udi dan mbah Maridjan, maka tak heran tulisan sadumuk batuk sanyari bumi mereka tulis di dinding rumah sebagai pepeling agar mereka tak lupa.

    Hanya saja, waktu berganti dan perubahan itu adalah sesuatu yang abadi karena pasti terjadi. Kini negara sedang amenangi jaman edan, kekacauan tatanan sedang terjadi. Republik salah urus, bukan karena kita tidak pintar bukan karena kita bangsa yang bodoh akan tetapi kita lupa, dari mana kita bermula dan untuk apa Republik merdeka. Kita dari semula adalah bangsa yang besar yang bisa membangun peradaban-peradaban yang mulia seperti Borobudur dan Prambanan. Kita dari semula adalah bangsa yang besar yang mampu melawan penjajahan. Tapi kita kini lupa darimana kita bermula, kita lupa akan jati diri kita. HB IX sudah menunjukkan cara, bagaimana beliau berdamai dengan modernitas dan tetap berakar pada akar kultural, serta keberanian dalam sikap yang jejeg dalam membela kehormatan dan keutuhan bangsa itu telah terbukti ampuh membawa kemajuan dan kemerdekaan bangsa.

    Hanya saja, waktu berubah dan penjajahan tak pernah musnah. Kita sedang keblinger, kita memang punya harta dan kekayaan bangsa yang lebih dari sadumuk batuk sanyari bumi tapi yang kita nikmati hanya sadumuk batuk sanyari bumi karena kita tidak berani berusaha membela, seperti kita jual kehormatan dan hanya dapat sedikit kemuliaan. HB IX telah menunjukkan kepada kita sebuah cara menjaga kehormatan bangsa dengan berani membela rakyatnya yang akan dipaksa jadi romusha keluar dari Yogya dengan meminta mereka bergotong royong membangun Selokan Mataram yang bermanfaat hingga kini. HB IX telah menunjukkan kepada kita bahwa dengan menjaga kehormatan maka lawan akan kalah dengan sendirinya, hingga bisa menang tanpa ngasorake. Kini sudah saatnya kita kembalikan dan bela kehormatan bangsa. Kita ambil kembali hak kita yang sedang dijajah bangsa lain demi tanah air tumpah darah milik kita dan generasi penerus kita kelak.

    Hamehayu hayuning Bawana ala Sri Sultan HB  IX

    Langkah yang sudah HB IX lakukan adalah sikap hamehayu hayuning bawana sebagaimana simbol Kraton Yogyakarta, sikap ini adalah sikap menjaga keselarasan tatanan kehidupan di dunia untuk kemuliaan bangsa. HB IX telah meletakan investasi besar untuk hamehayu hayuning bawana dengan memberikan kesempatan bagi Universitas Gadjah Mada untuk berkembang, dan mencerahkan kehidupan bangsa. Sebagai pemimpin, HB IX telah melakukan ing ngarsa sung tulada, pertanyaan yang muncul adalah apakah kita sebagai generasi penerus bisa mengedepankan sikap tut wuri handayani atas tulada contoh yang telah beliau berikan untuk kemajuan dan kemuliaan bangsa atau tidak, maka akhirnya kembali pada kita untuk kemudian memilih. Selamat memilih dan menjalani pilihan hidup kita. Hamehayu hayuning bawana!

  • Pagi itu ribut-ribut sudah dimulai dari pagi. Che seperti biasa menjadi yang paling pertama bangun, dan Intan kemudian selalu menjadi yang terakhir. Pagi itu menjelang keberangkatan menuju ke Pulau Haruku. Kami harus berpindah tempat hari ini, setelelah dua hari kami bertiga berkeliling kota Masohi, Makariki, dan Waipia di kecamatan Telu Nila Sarua dan kami merasa tidak ada lokasi di sini yang cocok dengan apa yang kami rencanakan. Beberapa kali kami bertiga berdiskusi, akhirnya memang kami mencapai kesepakatan, kami akan pindah lokasi ke pulau Haruku. Perpindahan ke Haruku pun bukan urusan mudah, dan bukan jaminan pula kami bisa mendapatkan apa yang kami inginkan. Perjalanan ke Haruku, seperti halnya perjalanan ke Maluku adalah perjudian yang belum tentu kami menangkan.

    ***

    Jam 7 teman-teman dari mess taman Nasional sudah berangkat ke kantor untuk mempersiapkan segala sesuatu di kantor taman Nasional yang berjarak kurang lebih sekitar 3 kilometer dari Mess. Semalam kami sudah pamit untuk berangkat menuju ke Haruku, beberapa rekan Taman Nasional tampak berat melepas kami pergi, karena memang menurut mereka perjalanan ke Haruku dan kondisi di sana sangat jauh dari kota. Meskipun mereka tetap percaya bahwa segala sesuatunya akan berlangsung dengan aman di sana, lalu kami pun mencoba menjelaskan kembali tujuan kami.

    Saya harus memacking barang-barang kembali, karena carrier yang saya pakai dipakai El untuk mendaki Binaiya. Kardus yang dipakai untuk membawa buku-buku yang akan disumbangkan untuk sekolah di Kariu terpaksa saya atur ulang. Untuk memasukkan barang-barang pribadi. Sangu peralatan snorkeling dan kaki katak yang saya bawa dari Sekretariat pun turut diatur ulang. Akhirnya dengan teknik packing yang baik semua barang pribadi dan buku-buku itu bisa terpacking dalam satu kardus. Kemudian melindungi isinya dengan plastik garbage. Sementara Intan dan Che tetap menggunakan carriernya.

    Pagi yang ribut itu punt lupa kami tutup dengan sarapan. Tapi tidak apa-apa di perut kami masih tersisa makanan sisa semalam. Entah mengapa tapi kami rasa tadi teman-teman Mess mengajak kami makan enak, selain itu juga kami sempat diajak melihat kehidupan malam di Masohi, diajak minum semacam Jahe tapi kami rasa kami seperti minum kuah nasi padang saking kuatnya –rempah-rempah dalam minuman itu. Konon katanya minuman itu berasal dari Sulawesi Selatan. Lalu kami nongkrong bersama, suasana yang mengingatkan pada tanah kelahiran tentunya. Sayangnya kemesraan dengan orang-orang Mess ini hanya sejenak saja karena memang kami hanya tiga hari tiga malam di sana. Pagi ini kami sudah harus berangkat menuju Haruku.

    Kami menuju ke terminal Masohi dengan jalan kaki, agak sedikit ragu juga untuk menggunakan becak karena beberapa hari sebelumnya Intan yang dengan perawakan yang mirip dengan orang Ambon, sempat digoda oleh tukang becak Masohi. Sebuah cerita lucu tersendiri jika memang kejadian itu diingat-ingat karena tukang becak itu sangat ngebet bahkan sampai bilang ingin menikahi Intan. Maka dari itulah kami akhirnya tidak mau menggunakan becak dan memilih untuk jalan kaki, toh jalan kaki sudah menjadi menu kami sehari-hari sepanjang ekspedisi ini. Bahkan akan menjadi menu utama dari anak-anak pendaki Binaiya.

    Terasalah ungkapan yang tertempel di dinding sekretariat Palapsi itu begitu mengena, A Thousand Miles of Journey is Begin With A Single Step. Tanpa berjalan, mustahil kami mencapai sesuatu. Beginilah pada akhirnya kami bertiga berjalan, saya memanggul kardus sebagai ‘carrier’ sepanjang jalan nanti. Sampai di terminal memang kemudian mobil menuju Lestetu sudah ada, boleh dibilang agak kurang beruntung kami. Mobil ini adalah sebuah kijang tua tahun 90an berwarna putih, yang satu mobil nanti akan diisi dengan 8orang termasuk kernet dan sopir. Sementara sebetulnya di belakang mobil ini sebuah angkot lain yang lebih muda dan lebih segar sebuah Toyota Hilux juga menunggu. Sayangnya karena memang si kijang putih ini yang datang duluan maka si Hilux harus menghormati seniornya itu. Walhasil dengan sistem tunggu penumpang begitu full berangkat dari jam 9 kami ada di sana, baru jam 10 kami berangkat.

    Dengan didampingi bang Ali dari Pecinta Alam Masohi, kami bernegosiasi. Bahkan kami sempat diajak makan dulu. Dibayari makan, hal yang sepertinya sudah biasa dilakukan oleh orang-orang daerah ini untuk menyambut tamu-tamu jauh seperti kami. Banyak orang baik, dan teramat baik di sini. Meskipun yang akan anda dengar bahwa orang Ambon itu banyak yang kasar dan menjadi preman-preman di terminal-terminal di Jawa. Tapi sungguh anda akan sangat tahu bahwa orang-orang ini memiliki hati yang luar biasa baik ketika anda pernah mengalami malam-malam bersama mereka. Akhirnya dengan dilepas bang Ali dan rekan-rekan Mess yang ikut melepas kami, kami berangkat menuju Haruku.

    Pulau Haruku, adalah sebuah pulau yang terletak di Selat Seram. Sehingga artinya kami harus berpindah pulau kembali. Perjalanan menuju Lestetu si bagian barat Seram, memang bukan perjalanan yang pendek. Meskipun kondisi jalan secara umum memang masih cukup baik tidak banyak lubang di jalan raya lintas seram ini. Memang juga karena juga tidak banyak kendaran berat yang lewat jalur ini. Jalur yang membentang ini memang melintasi beberapa sungai, ada satu atau dua sungai besar, akan tetapi sesuai dengan informasi yang kami terima, sungai di sini memang tidak layak digunakan untuk kegiatan arung Jeram.

    Kembali membicarakan tentang jalan, yang jalan ini merupakan urat nadi penggerak perekonomian di Seram. Jalan utama yang menembus hutan dan membelah gunung, dan memotong beberapa sungai. Ada beberapa jembatan yang sifatnya jembatan darurat. Tapi itulah jembatan utamanya, karena memang tidak ada tanda-tanda jembatan rusak. Sehingga jembatan utama di sini adalah jembatan darurat yang ditopang dengan besi dan kayu. Bahkan ada daerah jalan terpotong dan kami harus menyeberangi sungai untuk menembus jalan itu. Kijang tua ini harus susah payah memacu nafasnya menembus jalanan, dalam suasana hujan deras. Hujan yang berhasil masuk ke dalam mobil, karena beberapa bagian bocor.

    Akhirnya nafas mobil ini harus berhenti, setelah dengan sukses mampu menembus beberapa perbukitan dan menyeberangi sungai, menembus hutan juga, melalui jalanan yang sewaktu-waktu celeng bisa menyeberanginya. Akibat sopir yang selalu memainkan musik dengan keras sepanjang perjalanan ini khilaf, menerjang genangan air tanpa berpikir bahwa bagian kap mesin tidak tertutup dengan sempurna. Aki mobil basah terkena air dan tidak mampu memercikan listrik untuk memancing mesin hidup. Mobil macet, kami berusaha mendorong dalam hujan deras. Di tengah hutan tanpa ada sinyal handphone, beberapa penumpang sempat panik. Saya mencoba menenangkan Intan dan Che. Lalu ikut mendorong mobil. Tapi sia-sia, si kijang memang kelelahan dan istirahat. Akhirnya kami dipindah ke mobil hilux yang tadi masih menunggu penumpang di Masohi. Untungnya ada yang kosong yang mau berbagi kesumpekan dan ketidaknyamanan menumpang angkutan umum di tengah suasana hujan.

    Tidak lama dari tempat kami macet, tadi akhirnya kami sampai ke Lestetu. Penyeberangan speedboat yang akan membawa kami ke dermaga Pelaauw. Anda mungkin membayangkan tempat ini adalah sebuah tempat dengan ada dermaga besar. Nyatanya ini hanyalah pantai biasa dimana kapal merapat belum tentu dengan sempurna. Kapal hanya akan berhenti agak di lautan, dan kami harus memberanikan diri masuk ke laut sebelum kami akhirnya nanti kami naik ke perahu. Semua dalam suasana hujan, agak deras. Saya melihat ke muka Che yang mulai pucat. Agak sedikit khawatir bila Che jatuh sakit.

    Setelah perahu penuh, maka dua buah mesin tempel lalu dihidupkan. Bersiap membelah selat Seram. Pengaman utama di sini hanyalah keyakinan, cadik perahu dan mesin berikut operatornya. Andakaikan semua itu tidak mampu menahan gelombang, maka jelas terbaliklah kami yang tanpa pengaman pelampung. Syukur bagi kami yang mampu berenang mungkin masih akan bisa mengambang. Akan tetapi yang tidak bisa berenang bisa jadi mereka akan menjadi kenangan di tengah selat Seram.

    Speedboat bergerak laju, dengan gagah membelah selat Seram. Ombak dibelah, untungnya dengan pengalaman berarung jeram maka ombak-ombak ini tidak membuat perut saya mual. Saya masih melihat ke Che yang seperti berdzikir atau menggigil kedinginan. Tapi pucat masih terlihat di wajahnya, serta seluruh jaketnya yang basah. Sementara Intan, masih sehat. Pengalaman operasional air tentunya bisa membuat Intan menjadi lebih tabah menghadapi perjalanan yang memang menegangkan ini. Hampir 45 menit lebih kami membelah lautan akhirnya Dermaga Pelaauw mulai nampak, keramaian kota kecamatan ini lamat-lamat nampak dari Lautan. Lalu asisten dari sopir speed berkata, untuk melempar sauh. Artinya kami sudah siap mendarat.

    ***
    Mendaratkan kaki di Pelaauw, memandang ke sekeliling. Antah Berantah. Benar-benar tidak ada yang kami ketahui selain tujuan kami ke Kariu di rumah bapak Frederick, dan nomor handphone dari ketua Gemmpa Satelit Pulau Haruku, Leon. Mencoba mengamati, sambil meladeni pertanyaan-pertanyaan dari tukang ojek yang mulai menanyakan tujuan kami. Kami menunggu dijemput oleh teman-teman dari Gemmpa satelit pulau Haruku. Akhirnya tak berapa lama setelah Leon menelepon, akhirnya rekan-rekan datang. Mereka juga naik ojek. Kami akhirnya naek ojek menuju rumah Bapak Frederick. Tak jauh sebenarnya Kariu ini, hanya sekitar 10 menit mengendarai sepeda motor. Salah satu yang memesona saya sedari tadi adalah membayangkan kehidupan di sini. Kehidupan dalam bahasa elite orang Jakarta mungkin akan bilang kehidupan di sini sebagai seaside living, dan yang terbayang dalam pikiran saya sudah ke snorkeling yang saya bawa dan akan saya manfaatkan untuk bersnorkeling ria di birunya selat Seram. Akan tetapi agaknya itu bonus yang sudah saya bayangkan, senyatanya begitu memasuki negeri Kariu dan melihat adanya bekas bangunan gereja yang sedang dibangun kembali menunjukkan adanya bekas luka yang masih tersimpan luka yang akan kami selami dalam penghidupan kami di sini setidaknya hingga 10 hari ke depan.

    ***

    Tags:

  • Hidup bisa jadi teramat sederhana, atau bisa jadi teramat sulit. Hidup bisa jadi sesuai arah yang kita harapkan, meskipun kerap kali dan lebih sering berbelok. Hidup adalah kenyataan, yang tak pernah kita menangkan, karena selalu saja ada yang tak selesai setiap kali kita menyelesaikan sesuatu. Bahkan, sesudah hidup selesai apakah benar-benar selesai?

    Demi yang tak selesai, tidak untuk melerai perkelahian dan mengusaikan masalah, karena yang tak selesai adalah jawaban dari kegelisahan.

  • seseorang mengajakku bicara hari-hari belakangan ini

    topik yang dia buka dengan kata yang tak  lazim dan tak biasa

    dia bicara tentang sebuah hari yang aku tak mengerti

    hari-hari belakang yang sudah sirna meski kekal tak fana

    ” aku mengajakmu melihat ke belakang, tapi kau tak pernah sudi ”

    ” aku mengajakmu melihat ke depan, tapi kau benci misteri ”

    ” untuk apakah kau bisa melihat, jika kau tak mau mengerti ”

    lalu kami diam.

    Tags:

  • Semalam saya menaiki sepeda motor, memulai aktivitas nocturnal. Jenuh dengan hawa sok intelektual di Utara, maka saya putuskan melepas penat ke wilayah Selatan. Tak jauh saya hanya ingin melihat Alun-alun Kidul. Lalu saya masuk ke dalam wilayah kraton tersebut, tidak sulit memang karena ini memang wilayah kraton yang terbuka, jalan yang notabene merupakan jalan kraton dibuka untuk dapat dilalui oleh masyarakat umum. Belum lagi tanah Kraton yang ada di dalam beteng kraton yang boleh dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Keridaan hati Kraton dan Sultan, mungkin inilah penjalmaan dari sabda misuwur, ” Tahta Untuk Rakyat”. Tahta yang dijalankan untuk kepentingan rakyat.

    Seandainya, Kraton dan Sultan mau memanfaatkan tanah dan meminta rakyat untuk membayar setiap kali masuk dan tinggal di wilayah kraton, maka betapa besar keuntungan yang didapatkan Keluarga Kraton. Toh tapi nyatanya itu tidak dilakukan, bagi saya ini adalah keikhlasan yang demikian mengharukan. Belum lagi, ketika saya masuk ke dalam Alun-alun Kidul. Betapa banyak orang yang ada di sana, mencari secuil kehidupan yang mungkin terserak dari kantong-kantong pengunjung malam itu. Lagi-lagi, Kraton menjadi tempat hidup dan melanjutkan hidup.

    Lalu saya memarkir motor saya, dan duduk sambil melihat aktivitas masangin yang dilakukan oleh orang-orang. Kepulan asap tak lama kemudian mulai memenuhi udara wajah saya. Melamun sejenak. Anehnya di tengah lamunan saya, tiba-tiba seorang teman lama datang menyapa saya. Sungguh memang pertemuan yang tidak terduga, saling berbasa-basi sejenak lalu mengobrol. Teman saya lalu bercerita tentang kampusnya. Kampusnya adalah sebuah kampus ternama di negara Indonesia. Universitas yang dari dulu terkenal dengan judul universitas kerakyatan – versi agak intelek dari judulnya universitas ndeso.

    ***

    Teman saya, sebut saja Damar, bercerita. ” Akhir-akhir ini Universitas tersebut menjadi buah bibir kebanyakan orang, karena isu-isu yang diluncurkan kampus tersebut terkait pengelolaan kampusnya menimbulkan kontorversi. Mungkin petinggi-petinggi kampus yang sangat intelek dengan kebijakan yang intelek juga, sehingga tidak kompatible dengan kondisi masyarakat kampusnya yang mungkin kurang intelek sehingga kebijakan yang dikeluarkannya selalu disambut dengan kontroversi. ” . Saya yang hanya orang tak berpendidikan ini pun langsung saja nerocos, ” lha kok orangnya yang disalahkan jangan-jangan memang tidak intelek itu kebijakannya. “.

    ” Kebijakan yang dikeluarkan sebenarnya cukup intelek, ah kata-kata intelek itu kesannya borjuis sekali, oke saya ganti. Kebijakan yang dikeluarkan sebenarnya merupakan kebijakan yang cerdas dan cita-cita yang indah. Contohnya, konsep educopolis bukannya sebuah ide yang bagus to, menciptakan kampus ramah lingkungan. Jadi kampus ini ga hanya punya banyak orang yang ngakunya mahasiswa pecinta alam tapi secara nyata pun mendukung gerakan cinta alam. Tapi saya tetap tidak setuju larangan merokok di kampus.” Berbicara dengan nada agak kiri dan penutup yang cukup oportunis, ya soalnya dia juga perokok. ” Lhagene dab, kalau saya simak pembicaraanmu sebenarnya kebijakannya tuh bagus lho. ” saya bicara dengan nada sok tahu. ” Cita-citanya sih keren dab, tapi aplikasinya dengan penerapan portalisasi, dan pembatasan kendaraan yang masuk dengan sistem berbayar itu lho dab yang kebanyakan tidak bisa diterima. Masak mau masuk kampus sendiri mbayar. Ga mbayar aja banyak yang mbolos, apalagi mbayar. Mungkin memang educopolis itu lama-lama menjadi cita-cita yang kapitalis. Mungkin kampus ini pun semakin akan menjadi kapitalis saja, ketika biaya pendidikan pun makin semakin tinggi ditambah dengan masuk kampus membayar. ” Damar menghelas nafas panjang.

    ” Yah nasib bagi teman-teman yang kuliah di sana, dan nasib adalah kesunyian masing-masing jika merujuk kepada mas Chairil Anwar. Kalau menurutku, setauku dari membaca koran yang ada di angkringan Hardjo. Pendidikan yang bagus adalah pendidikan yang mahal, bukan pendidikan yang murah. Ya, bagus kan pendidikan kampusmu itu semakin mahal jika diikuti bebarengan dengan peningkatan kualitas juga. Toh jikalau saya liat orang-orang kampusmu itu mampu kok. Buktinya semuanya berkendaraan sampai mau dibatasi kan jumlahnya? Kampus itu representasi dari manusia di dalamnya, ya nek kampusnya dicap kapitalis bisa jadi jangan-jangan karena orang-orangnya juga kapitalis. ” Sedikit berbekal informasi dari koran saya mencoba mengimbangi obrolan Damar.

    ” Kan juga tidak semua mahasiswa kampus itu orang kaya. Bagaimana solusi untuk mereka?” Damar mengudarakan kegelisahan. ” Nek menurutku ya seharusnya ada subsidi. Subsidi dari negara untuk yang tidak mampu, dan subsidi silang dari yang mampu untuk yang tidak mampu.” mengumbar Solusi, yang tiba-tiba keluar saja dari mulut. ” Yah semuanya menurut saya juga jer basuki mawa bea, mas dab. Segala sesuatunya itu ya butuh pengorbanan. Saya dengar cita-cita kampus menuju world class research university, ya tidak akan tercapai tanpa mengeluarkan dana yang besar. Urusan dana yang besar itu memang tidak bijak jika hanya di dapatkan dari memoroti mahasiswa, kampus harusnya lebih bijak mengembangkan jalan dan meretas kembali jejaringnya untuk mendapatkan dana di luar dana mahasiswa. Selain itu juga jangan semata-mata mengharapkan uang dari pembayar pajak. APBN masih terluka parah untuk menutup kebutuhan lain negeri ini, itu pun masih diamputasi para pelaku korupsi. Ya yang penting semuanya itu memang tujuannya untuk World Class Research University aja to dab…” selorohku dengan gaya birokrat. ” Yah asalkan tidak menjadi World Class Ribet University wae, kampus diportal mlebu mbayar, birokrasi njlimet, kuliah susah, oooalah urip kok saya angel…. ” curhatan Damar di tengah malam ketika langit malam Alun-alun Kidul penuh dengan cahaya kembang api yang dihidupkan para penikmatnya. Batang ke empat sudah tinggal seperempat, lama juga kami mengobrol. Hingga akhirnya pagi membuka mata, embun mengantar kami pulang. Sebelum pulang Damar berbisik, ” jaluk rokoke lik…”, dan saya berujar ” wah iki, semua potensi modal adalah milik bersama yo, koyone kakean moco Das Kapital kowe… “. Senyum tersungging dari bibir tebal Damar, jauh dari bibir manis Cut Tari atau Sosok yang mirip Cut Tari di Video yang mengguncang Indonesia.

    ***

    Siang hari sesudah pertemuan saya dengan Damar, saya bermain ke angkringan saudara Hardjo, Sp. TK ( Spesialis Tenggorokan Kering). ” Opo Kom?” Hardjo dengan sapaan yang biasa dia lontarkan menyapaku. ” Ek Jerus dab!” jawaban singkat saya yang sudah pasti Hardjo pahami maksudnya. Kemudian duduk, semende pada pagar tembok rumah Sakit Matamu. Sambil sesekali menyantap gorengan, serta tidak lupa merokok. ” Jarene kampuse Damar, mlebu mbayar Le?” Ukara yang muncul dari bibir Hardjo sambil menyerahkan pesananku, nyaris membuatku tersedak. ” Welah, kok reti dab, tahu dari mana ni?” tanyaku. ” Walaupun gur dodolan angkring, saya ini pembaca setia koran Merbabu dab…” jawabnya membela diri. ” Lha kalau kabar yang saya dengar memang begitu adanya, betapa sangat mengejutkan memang, dan sedikit membuat saya trenyuh… ” jawabku mengurai aksara. ” Jelang dos, masak mau masuk kampus saja mbayar, lha emang duit mahasiswa sekian ribu sama duit negara milyaran rupiah itu tidak cukup apa buat membiayai operasional parkir? kalau emang ga cukup yo rasah dianake acara parkir mbayar barang. Kowe sekolah larang-larang je, isih ditambahi. Nek anakku sekolah di sana ya tak suruh protes, tapi yo ketoke ra mungkin anakku neng kono… lha wong bapake gur tukang angkringan… ” jawaban Harjo yang meledak di awal lalu turun seiring dengan menurunnya self esteemnya. ” Yo, ben to. Kan kampusnya isinya juga orang-orang kaya. ” Kang Bagong penjual bensin eceran ikut berdiskusi. ” Hlaa, tapi kan itu bertentangan dengan prinsip Universitas Kerakyatan to bos… ” jawab Harjo yang akhirnya membawakan ukara dahsyat Universitas Kerakyatan. Pembicaraan menjadi seru, lalu Pak Sri Polisi yang tugas di Bank Masyarakat Indonesia langsung melontarkan kata-kata yang langsung menghentikan diskusi, ” Kalian tu pada ngapain to? Lha wong kui wes urusane uwong Universitas sing mikirke ki para Professor, Doktor, Insiyur, Dokterandes, lha kalau kita kan gur SD, SMP, SMA, yo ra tekan ga sampai mikirnya ke sana. Uweslah percaya wae. Jangan lupa Jo, gaweke aku es lemon tea.” Betapa pasrahnya kepada orang yang lebih linuwih pun muncul di sini. Memang demikian mengharukan dan mengasyikan, jengah dengan istilah-istilah intelektual di utara saya terhapuskan dengan mendengarkan celoteh orang-orang yang demikian kecil, dan ngrumangsani dirinya kecil, yang mungkin suaranya tidak sempat terekam atau cenderung dilupakan ketika mungkin kita keblinger dengan kekuasaan dan intelektual.

    ***
    Saya yang cukup penasaran akhirnya lewat ke dalam kampus Damar. Kata-kata yang keluar dari Mulut saya adalah. ” Subhanallah” saya merasa Indonesia sudah kaya kembali, mobil berturutan antre masuk kampus dan mendapatkan karcis. Saya merasa memang kampus Damar adalah kampus yang sangat kaya. Betapa tidak kaya, dia mampu membayari sekian puluh satpam, untuk menjaga gerbang dan duduk menulis nomor kendaraan bermotor. Investasi ratusan juta rupiah yang juga turut serta mendukung global warming karena kertas karcis tersebut tentunya mendukung penggundulan hutan juga. Wow luar biasa.

    Sejenak kemudian saya beristigfar, ” astagfirullah” teramat jarang bagi saya yang agaknya agak jauh dari tiang agama mengucap dua kata-kata suci itu. Tapi menyaksikan pemandangan ini saya pun beristigfar. Saya masih melihat pengemis di kampus Damar, artinya negara saya belum kaya benar. Saya pun membaca tulisan-tulisan agitatif yang berisi bahwa rakyat miskin dilarang kuliah karena pendidikan yang mahal, saya pun trenyuh dan ngelus dada. Lha wong membuat system parkir yang demikian besar dan borosnya saja Universitas ini mampu, tapi kok masih saja ada keluhan tentang biaya kuliah yang mahal dan fasilitas bagi yang kurang mampu yang kurang memadai. Hambok, itu duit buat operasional parkir dipakai buat bea siswa mahasiswa, dapat berapa ratus mahasiswa ya?
    Jer basuki mawa bea, semunya butuh pengorbanan. Saya rasa itu adalah ungkapan kambing hitam. Bagi saya kampus ini sudah berubah menjadi raksasa yang sombong dan angkuh tetapi makin hari makin ompong saja. Intelektual yang kaya, tapi miskin intelektualitas. Saya rasa kampus ini kehilangan hati dan nyali, hati dan nyali untuk bicara kejujuran. Kampus yang licik dan oportunis. Saya rasa itu terlihat dengan diadakannya sosialisasi di musim liburan dan KKN yang otomatis pula sedikit mahasiswa di kampus, yang jelas berkorelasi positif dengan sedikit protes. Tidak ada perjuangan di sana, karena mahasiswanya juga sibuk dengan urusan politik dan eksistensi mereka sendiri, dan ketika dihadapkan pada satu persoalan kampus. Mereka runtuh satu persatu, karena tidak ada kesatuan hati dan semangat di antara mereka. Inilah era matinya perjuangan.

    mendesis kecil : Hidup Mahasiswa.

    ***
    Saya sebagai mahasiswa UGM bersyukur, kampus saya ‘belum’ separah kampus Damar dan semoga UGM bisa menjadi kraton Intelektualitas, yang memberikan pengayoman kepada segenap rakyat sebagaimana Kraton Ngayogyakarta pernah memberikan pengayoman kepadanya, membesarkannya perlahan hingga akhirnya menjadi seperti sekarang. Akhirnya Saya hanya bisa bersyukur sebagai mahasiswa UGM. Masih ada secuil kebanggan di balik Almamater yang dipakai meskipun hanya tinggal secuil.

  • Kami duduk di angkringan di teras trotoar kantor surat kabar harianKedaulatan Rakyat. Harian ini adalah yang tertua di Yogya, sudah ada sejak jaman empat lima, maka sangat wajar ketika kini harian ini menjadi legenda. Salah satu jargon yang diusung harian ini adalah‘migunani tumraping liyan” , artinya adalah bermanfaat dan berdaya guna untuk sesama mungkin karena itulah maka angkringan boleh berjualan di depan kantor di waktu malam hingga dini hari menjelma nanti. Sungguh kebijaksanaan yang demikian berbeda dengan kantor-kantor pada umumnya, kantor harian ini sudi menemerima kehadiran pengusaha kecil ini untuk berkelana menembus malam mengumpulkan jejak rejeki yang tertinggal di antara jejak langkah malam. Maka kehadiran angkringan ini menjadi sebuah pelita yang meliuk-liuk bersama temaram jingga lampu kota yang menyala di kompleks jalan Mangkubumi yang sederhana, dan seperti cerita tentang harianKedaulatan Rakyat, jalan ini pun salah satu legenda hidup di Yogyakarta.

    Diambil dari nama muda Sultan Hamengkubuwono I, Mangkubumi adalah seorang pemberontak yang melawan ayahnya sendiri Pakubuwono yang bertahta di Surakarta karena keblinger dan membela Belanda. Perlawanan dan pemberontakan ini, sekaligus jua usaha perlawananan terhadap kolonialis Belanda yang sudah mencoba merusak tatanan kehidupan orang Jawa. Dari perang ini lalu lahir perjanjian Giyanti, ternyata perlawanan ini pun dimanfaatkan Belanda untuk memecah belah kuasa raja Jawa. Maka lalu kekuasaan raja Jawa dibagi menjadi dua : Kasunanan Surakartahadiningrat dan Kasultananan Ngayogyakartahadiningrat. Mangkubumi, yang memberontak itu kemudian memerintah di Ngayogyakartahadiningrat.

    Kerajaan baru ini pun berbenah, untuk menyiapkan pusat kekuasaan maka lalu dibangunlah Kraton Ngayogyakartahadingrat. Konon pemilihan lokasi kraton itu melalui pertimbangan filosofis, geologis, geografis, dan estetika seni yang mendalam. Lihat saja, lokasinya bisa ditarik garis lurus dengan Merapi dan laut Selatan. Jika boleh dimaknai maka sebenarnya banyak makna yang terdapat di dalamnya, terkait fungsi kraton dan tata nilai kehidupan Jawa. Tata nilai yang kalaulah saya tulis di sini panjang lebar tak akan bisa tergambar, tapi tentunya ada perdamaian meskipun dengan penyerdehanaan, maka nilai itu akan merujuk pada harmoni. Harmoni, bahwa ada dua titik yang harus seimbang, maka Kraton harus menyeimbangkan dan mengayomi. Bahwa ada hubungan yang tak lepas antara yang naik dan sesama, maka Kraton menjadi pengerat dan penguat, merajut jadi kuat dan meraut jadi tajam ilmu dan makna.

    Sehingga jelas bukan sebuah kebetulan tentunya, jika kemudian cikal bakal perkembangan dari Kota Yogyakarta berkembang dari lingkaran Kraton Yogyakarta. Bahkan di kemudian hari HUT Kota Yogyakarta ditetapkan pada tanggal 7 Oktober, serupa dengan tanggal berdirinya kraton Ngayogyakarta 7 Oktober 1756. Sudah sebuah bukti sahih pula bahwa Sultan Hamengkubuwono pun sudah menerapkan dasar-dasar pengembangan kota melalui Kraton yang dibangun. Selanjutnya pun pergerakan sejarah Yogyakarta kemudian hari tak lepas dari Kraton, termasuk perjuangan melawan kolonialis Belanda dan lalu pun turut berperan dalam masa-masa clash II di Perang Kemerdekaan di mana Kota Yogyakarta jadi Ibu Kota Republik dan melindungi bayi Republik Indonesia dari serangan Belanda. Maka selain karena keinginan bergabung dengan Republik Indonesia dengan semangat kebangsaan yang tinggi, sejarah pun telah membuktikan kota Yogyakarta sebagai kota yang meski tidak mendapat pengakuan istimewa sekalipun, fakta dan kondisi yang ada sudah menunjukkan bahwa Yogyakarta sudah Istimewa, just the way they are. Istimewa, sebagaimana aselinya.

    Bagi saya tidak masalah pemerintah mengatur bagaimana kuasa istimewa itu seperti apa, tetapi yang paling utama adalah apa yang terkandung dalam istimewa itu yang jangan hilang atau dihilangkan. Memang harus teramat berhati-hati, dalam menyikapi isu keistimewaan ini karena akan melibatkan faktor sejarah dan kebudayaan, sementara di Yogyakarta yang beragam dan juga tumbuh kampus-kampus pusat pergerakan menyebabkan pemaknaan akan keistimewaan ini mekar dan beragam, bahkan pro dan kontra. Hal yang tak dapat ditolak, tapi jika gegabah bisa bubrah dan memancing amarah. Maka karena saya ini orang Yogyakarta yang terkenal sabar sumarah dan ramah, maka saya mencoba mengajak untuk menjadi istimewa tidak di mulut saja, karena orang Jawa yang tidak kehilangan “Jawa”-nya adalah pribadi yang ngelmu dan laku, karena ilmu kelakone kanthi laku.

    Wah-wah, seru sekali, padahal saya pengen mbahas soal jalan Mangkubumi dan kompleksnya tapi merembet jauh sampai isu istimewa. Wokey, karena saya sudah memproklamirkan sikap saya soal keistimewaan itu sendiri maka jelas demarkasi saya soal hal tersebut, Yogya istimewa itu segenap isinya : Kraton, Pura Paku Alaman, Kota, Kabupaten, Provinsi dan segenap warganya semua istimewa tak terkecuali. Jadi, begitu jugalah sikap dan pandangan saya terhadap kompleks jalan Mangkubumi ini. Ini jalan Legenda yang istimewa bung!

    Membentang dari Tugu Yogyakarta sampai depan teteg sepur stasiun Tugu, jalan ini sudah jadi sejarah dan berevolusi ikut siklus hidup dari kota Yogyakarta. Hanya saja daerah ini tidak nampak sebagai kompleks kota tua, atau pecinan seperti ditemui di Semarang atau Muntilan. Wajah kompleks ini, seperti pula Malioboro sebagai pusat kota telah berdandan dan melepas sandangan masa lalu kemudian menjadi sebuah daerah bisnis yang cukup prestisius. Memang daerah ini terkenal sebagai daerah bisnis, sedikit catatan tentang kegiatan kebudayaan di daerah ini. Tidak seperti Malioboro dimana sebagai daerah “tujuan”, kawasan kompleks Mangkubumi berikut lalu sekalian di dalamnya itu ada daerah Kranggan lebih kondang sebagai area ” transit ” ibaratnya adalah regol masuk ke dalam kompleks utama yakni Malioboro. Tapi sebenarnya jika di amati lebih lanjut pola kedua kompleks Mangkubumi dan Malioboro ini sama perkembangannya : didorong oleh adanya pasar tradisional.

    Jelas Malioboro bergerak berdetak dulunya karena adanya pasar Gedhe Beringharjo, baru kemudian toko Ramai yang telah menjelma menjadi Ramai Mall menjadi pemain-pemain genre baru yang seperti Beringharjo yang terkenal sentra pakaian, maka daerah ini kemudian mekar menjadi kompleks jualan sandangan. Tak jauh beda dengan Kompleks Mangkubumi, pasar Kranggan yang biasanya jadi “transit” pedagang-pedagang dari Utara sebelum masuk ke Beringharjo, pun menggerakan kawasan ini hingga akhirnya ada dua jenis usaha yang tumbuh di samping kanan dan kiri pasar Kranggan ini : usaha alat tukang dan listrik serta belakangan marak aksesoris telepon genggam. Bahkan harus dicatat bahwa pasar Klitikan yang sekarang berada di Kuncen Wirobrajan itu dulunya tumbuh berkembang dari daerah kawasan Mangkubumi ini. Tumbuhnya pedagang yang bagai jamur, tumbuh makmur, karena tanahnya subur tapi ternyata mengganggu, meskipun unik sebenarnya akan tetapi kemudian usaha ini mau dipindah ke lokasi baru tanpa banyak perlawanan dan akhirnya di lokasi baru pun mereka hidup dan tambah sukses. Sekarang wajah kompleks Mangkubumi dan kawasan sekitaran Tugu banyak dimanfaatkan untuk sesi foto-foto. Sesuatu hal yang teramat jarang, terjadi ketika saya umur SD dan SMP. Maklum saja waktu itu belum banyak kamera digital, dan juga Yogya belum terlalu banyak pendatang seperti sekarang. Saya warga aseli Yogya, tiap hari saya lihat Tugu sehingga rasanya gairah untuk foto itu tidak terlalu besar, tidak sebesar warga pendatang tentunya, asumsi saya sih.

    Sekarang ini di dunia yang serba digital, dimana manusia dengan teknologi visual yang semakin canggih bahkan mungkin telah bisa membuat manusia orgasme tanpa harus senggama. Lalu lintas di sekitaran Tugu yang juga turut beranjak ramai tidak membuat surut para penggila foto di Tugu. Entah yang memang serius belajar fotografi, atau hanya sekedar euforia semata untuk profile picture atau avatar berbagai social media, dan mungkin datang ke sini mencari sesuatu wangsit atau sekedar refreshing ya ini juga biasa aja sih. Yang jarang malah datang ke sana untuk mencari sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang tak bisa dilihat hanya dengan panca indera tapi harus mengelola segenap olah jiwa olah raga untuk dapat mendapatkannya. Tapi ya ini jarang sih, apalagi pengunjung Tugu yang mayoritas adalah anak muda saya yakin jarang yang punya kemampuan di atas normal seperti yang saya sebutkan tadi. Kalo yang punya kemampuan untuk menghancurkan Tugu, ala serombongan ormas di Purwakarta kemarin, saya rasa ada banyak sih kalo di Yogyakarta. Cuma ga berani aja ngerobohin, soalnya landmark Kota. Padahal daripada patung wayang di Purwakarta itu, Tugu Yogya ini jutsru benar-benar aseli produk Barat, produk kolonial Belanda.

    Ya Tugu Yogya sekarang yang berwarna putih ini adalah buatan Belanda sebagai Tugu pengganti dari Tugu Golong Gilig, yang runtuh akibat gempa besar pada tanggal 10 Juni 1867. Tinggi semula tugu yang berbentuk, gilig atau silinder bulat emanjang dan juga dengan puncak yang berbentuk golong atau bola, ini adalah 25 meter. Menjadilandmark filosofis dari Kasultanan Yogyakarta, golong gilig merupakan simbol kebulatan tekat dan kesatuan dengan semesta dan Tuhan yang maha esa. Erat dikaitkan dengan konsep manunggaling kawulo lan Gusti. Akan tetapi setelah runtuh, sebenarnya makna falsafahi dari bentukan golong gilig memang menjadi hilang. karena bangunan baru bentukan Belanda yang disebut tugu Pal Putih itu sendiri memang memiliki bentuk yang demikian baru. Tetapi, jika ditelah lebih dalam sebenarnya, adanya tugu tetap merupakan simbol untuk pepeling bahwa manusia ini memiliki hubungan yang vertikal di antara yang horizontal. Entahlah terlepas dari apa itu artinya, bahwa sejarah sudah tercipta dan bukan semata-mata untuk jadi artefak yang dibuang, tapi kita baca dengan perenungan, karena ilmu adalah pencerahan.

« Previous Entries   

Recent Posts

Recent Comments

  • Terima kasih atas partisipasinya dalam kontes blog
  • Mas Septian ingkang minulyo....Mugi2 saged nguri- uri bahasa...
  • hidup di jogja, membuat saya tahu rasanya bertanah air Indon...
  • Tidak banyak bahkan untuk sekarang hampir tidak ada seorang ...
  • jogja tetap istimewa. . sultan & sri pakualam ttp pemim...